Metrini Simatupang

Metrini Simatupang

  Perkenalkan Ulos di New York Fashion Week




Berawal dari gaun yang dikenakan oleh wakil Indonesia pada ajang pemilihan Miss Grand International, Metrini Simatupang semakin bertekad mengusung budaya Tapanuli dalam busana-busana rancangannya. Label "Batax", yang tampil dalam NYFW tahun ini, membidik pangsa generasi Milenial Amerika





“Semua perancang desainer kalau ditanya, New York itu impian jadi nyata. Kemudian model-modelnya juga kooperatif," kata Metrini Simatupang.

Ya, ajang New York Fashion Week mendapatkan sentuhan Indonesia berkat label “Batax” karya desainer Indonesia, Metrini Simatupang.

"Artinya mereka bukan hanya membawakan baju, tetapi saya juga memperkenalkan budaya Indonesia. Saya memberitahu mereka batik itu asalnya dari mana, ulos itu dari mana,” ujar Metrini lagi.

Katherine Calumna, salah satu model yang berjalan di peragaan busana “Batax,” juga punya kesan tersendiri atas busana karya Metrini.

“Saya senang baju ini, dan bahkan saya tidak sadar kalau ada belahan di sini. Baju ini glamor dan produk rumahan,” kata Katherine.






Sebelum dipamerkan di New York Fashion Week, baju rancangan Metrini menjadi pemenang dalam ajang Miss Grand International di Las Vegas.

Walaupun tidak memiliki pendidikan formal di bidang fashion, sejak kecil Metrini sudah terpesona oleh dunia jahit menjahit karena ibunya selalu membuatkan baju untuknya.





Darah Batak Metrini juga menjadi ilham dan ciri khas karya busananya.

“Batak itu identitas aku, aku ini dari suku Batak, originally dari Sumatra Utara. Jadi, dengan menggunakan nama Batak, saya berbicara tentang diri saya sendiri, tidak bicara tentang orang lain," tegas dia.


"Jadi itu autentik, di pasar AS menjadi signifikan dan ciri khas yang membedakan saya dengan produk dan desainer lain,” ujar dia lagi.



Metrini hijrah ke AS pada tahun 2009. Setelah mengikuti sejumlah kursus fashion, ia memutuskan untuk memilih karir sebagai desainer.

Ia memibidik segmen pembeli yang memang berpotensi membeli baju rancangannya.

“Untuk penutup, tema saya ‘Meet the Millennials’ yang identik dengan orang-orang yang mempunyai wawasan lebih dari generasi sebelumnya," kata dia.

"Artinya mereka lebih suka untuk mengetahui budaya lain,” imbuh Metrini.

Di bawah naungan unit usaha “Batax,” Metrini juga punya usaha produk dekorasi rumah dari kayu yang ia rancang sendiri.


Ia juga membuat produk perhiasan yang dijual di sebuah kedai kopi, dan dipasarkan secara online.

“Penjualannya sangat sukses," kata Kirk Hansen, pemilik kedai kopi Old City Market and Oven.




"Banyak orang datang dan mengagumi dan ada yang membeli. Juga menjadi kesempatan untuk berbicara tentang Indonesia dengan orang-orang yang ke sini," sambung Hansen.

Setelah New York Fashion Week, Mertini memamerkan karyanya di Washington, DC Fashion Week.

Metrini berharap suatu hari nanti bisa membuka butik yang menjual busana rancangannya di Kota New York.
sumber : www.voaindonesia.com
             kompas.com
Read More
Sihar Ramses Sakti Simatupang

Sihar Ramses Sakti Simatupang

Darah Seniman

Sihar Ramses Sakti Simatupang (dikenal dengan nama Sihar Ramses Simatupang, lahir di Jakarta, 1 Oktober 1974; umur 41 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia yang berprofesi sebagai redaktur budaya di harian Sinar Harapan. Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa puisi, esai sastra, dan cerita pendek yang dipublikasikan ke berbagai media massa. Sihar Ramses telah menerbitkan beberapa antologi puisi, baik karya tunggal maupun karya bersama.
Read More
Iwan Martua Dongan Simatupang

Iwan Martua Dongan Simatupang


Seniman Pejuang

Iwan Martua Dongan Simatupang, lebih umum dikenal sebagai ""Iwan Simatupang"" (lahir di Sibolga, 18 Januari 1928 – meninggal di Jakarta, 4 Agustus 1970 pada umur 42 tahun) adalah seorang novelis, penyair, dan esais Indonesia. Ia belajar diHBS di Medan, lalu melanjutkan ke sekolah kedokteran (NIAS) di Surabaya tapi tidak selesai. Kemudian belajar antropologi di Universitas Leiden (1954-56), drama di Amsterdam, dan filsafat di Universitas Sorbonne, Paris, Perancis pada Prof. Jean Wahl pada 1958 Ia pernah menjadi Komandan Pasukan TRIP dan ditangkap pada penyerangan kedua polisi Belanda di Sumatera Utara (1949); setelah bebas, ia melanjutkan sekolahnya sehingga lulus SMA di Medan. Ia pernah menjadi guru SMA di Surabaya, redaktur Siasat, dan terakhir redaktur Warta Harian (1966-1970).. Tulisan-tulisannya dimuat di majalah Siasat dan Mimbar Indonesia mulai tahun 1952.

Read More